• 0289-432032
  • perpustakaan@peradaban.ac.id

Monthly ArchiveMay 2017

Perpustakaan Sebagai Literasi Informasi bagi Masyarakat

Oleh: Endang Fatmawati

Setiap orang dalam menjalani kehidupannya pasti dihadapkan pada berbagai macam permasalahan dan pilihan yang terkadang membingungkan. Selanjutnya letak perbedaannya adalah seberapa besar masalah tersebut dan bagaimana seseorang menyikapinya. Misalnya: seseorang yang sedang membutuhkan berbagai referensi pada saat akan memulai usaha wiraswasta beternak lobster, siswa yang bingung mau melanjutkan studi kemana, pustakawan yang mau memulai menulis tapi kurang literatur, mahasiswa yang kesulitan mencari bahan untuk menyelesaikan tugas, ibu-ibu yang ragu antara memilih tempat belanja barang yang dirasa murah dan berbagai masalah lainnya yang biasa kita hadapi sehari-hari. Oleh karena itu tulisan singkat ini kami tulis dengan maksud agar kita menyadari betapa pentingnya ’literasi informasi’ agar permasalahan tersebut semuanya dapat kita selesaikan dan kita putuskan penyelesaiannya secara bijak.
Selanjutnya untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan tersebut, solusi yang tepat adalah segera akses ke perpustakaan merupakan alternatif sebagai sarana mendukung literasi informasi tersebut. Padahal seseorang yang datang ke perpustakaan juga dihadapkan pada berbagai sumber informasi yang beraneka macam bentuk dan kemasannya. Selanjutnya yang terpenting adalah bagaimana kita dituntut untuk mengambil keputusan yang benar dan tepat dengan sumber informasi yang tersedia di perpustakaan, sehingga dapat dipercaya dan dapat dipertanggungjawabkan sumbernya. Semakin kita bisa menghadapi dan menyelesaikan masalah yang menimpa kita dengan mengambil keputusan yang tepat, maka semakin menunjukkan tingkat kemandirian dan kedewasaan kita. Selain itu keputusan yang kita ambil akan menjadi baik tergantung pada bagaimana informasi itu bisa kita peroleh secara tepat.
Akhir-akhir ini kita sering mendengar istilah literasi informasi (information literacy). Literasi informasi dapat diistilahkan juga dengan istilah ’melek informasi’ maupun ’keberaksaraan informasi’. Bahkan di berbagai pertemuan/forum ilmiah juga sering didiskusikan mengenai literasi informasi ini. Oleh karena itu, dalam rangka menanggapi kebutuhan informasi yang semakin berkembang dan kompleks serta untuk berpartisipasi aktif dalam masyarakat informasi, maka kita memerlukan adanya literasi informasi sebagai proses pembelajaran seumur hidup (lifelong learning).
Perpustakaan dan literasi informasi merupakan dua hal yang berkaitan satu sama lain. Maksudnya bahwa literasi informasi tidak akan sempurna tanpa kehadiran perpustakaan yang memadai. Namun pernahkah kita sadari bahwa keberadaan perpustakaan yang menyediakan berbagai informasi mengenai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi itu ternyata membawa dampak yang sangat positif dan sangat membantu literasi informasi bagi masyarakat.
Akibat dari terus berkembangnya teknologi informasi dan komunikasi, maka dalam waktu 24 jam sejak kita bangun pagi sampai tidur malam hari jutaan informasi telah menyebar kemana-mana. Apalagi saat ini di perpustakaan sebagai sarana pendukung literasi informasi, ada banyak sekali sumber media yang bisa kita akses. Misalnya: perpustakaan selain menyediakan media cetak yang berupa buku, jurnal, majalah, surat kabar, juga menyediakan media noncetak seperti radio, televisi, internet maupun berbagai jenis bentuk multimedia lainnya.

Cara Penulisan Daftar Pustaka Harvard Style

Penulisan daftar referensi atau daftar pustaka dalam sebuah penulisan karya ilmiah (jurnal, tugas akhir, tesis, disertasi, prosiding, laporan penelitian) menjadi hal yang penting untuk menyajikan secara detail sumber-sumber  informasi dalam sebuah tulisan. Dimana penulisan daftar pustaka ternyata ada beberapa metode (style), diantaranya: (a) Turabian Style, (b) Harvard Style; (c) Vancouver Style; (d) American Psychological Association (APA) Style; (e) Chicago Style; atau (f) Kombinasi dari berbagai style. Masing-masing style penulisan sumber kutipan tersebut memiliki keunggulan dan kelemahan, tetapi suatu style yang dipilih dan dianut harus diterapkan secara konsisten. Salah satu style yang sering dipakai oleh para penulis, peneliti, dan berbagai institusi pendidikan serta berbagai publikasi ilmiah adalah Harvard-APA Style. Gaya penulisan daftar pustaka menurut APA (American Psychological Association) adalah gaya yang mengikuti format Harvard.

Aturan Penulisan Daftar Pustaka Harvard-APA Style

Beberapa aturan dasar penulisan daftar pustaka dengan Harvard-APA Style yaitu:

  1. Sumber kutipan yang dinyatakan dalam karya ilmiah harus ada dalam Daftar Pustaka, dan sebaliknya.
  2. Daftar pustaka tidak dibagi-bagi menjadi bagian-bagian berdasarkan jenis pustaka, misalnya buku, jurnal, internet dan sebagainya.
  3. Ditulis satu spasi, berurutan secara alfabetis tanpa nomor berdasarkan nama akhir pengarang atau organisasi yang bertanggung jawab. Jika suatu referensi tidak memiliki nama pengarang maka judul referensi digunakan untuk mengurutkan referensi tersebut diantara referensi lain yang tetap diurutkan berdasarkan nama belakang pengarang.
  4. Jika literatur ditulis oleh satu orang, nama penulis ditulis nama belakangnya lebih dulu, kemudian diikuti singkatan (inisial) nama depan dan nama tengah, dilanjutkan penulisan tahun, judul dan identitas lain dari literatur/pustaka yang dirujuk.
  5. Apabila ada beberapa karya yang ditulis oleh pengarang yang sama, urutkan berdasarkan tanggal terbitnya (dimulai dari yang paling lama ke yang paling baru).
  6. Jika seorang pengarang mengeluarkan beberapa karya dalam tahun publikasi yang sama, maka diurutkan berdasarkan huruf kecil yang menyertai tanggal publikasi (contoh: 1988a, 1988b, 1988c, dst.).
  7. Tanggal publikasi dituliskan setelah nama(-nama) pengarang.
  8. Judul referensi dituliskan secara italic, jika daftar pustaka ditulis tangan maka judul digarisbawahi.
  9. Cara penulisan setiap daftar pustaka berbeda-beda, bergantung pada jenis literatur/ pustaka yang menjadi referensi.

Cara Penulisan Daftar Pustaka Harvard-APA Style

Pada dasarnya dalam pedoman Harvard-APA Style , penulisan daftar pustaka dipisahkan oleh koma dan diakhiri dengan tanda titik. Sementara untuk judul sumber kutipan (sitasi) menggunakan huruf kapital untuk setiap kata kecuali kata penghubung. Meskipun demikian, terdapat beberapa perbedaan dalam penulisannya sebagai berikut:

  1. Buku

           Pola dasar penulisan referensi berjenis buku adalah:

           Nama Belakang Pengarang, Inisial tahun terbit, Judul buku (Edisi jika edisinya lebih dari                      satu), Tempat diterbitkan, Penerbit.

             Hal yang perlu diperhatikan adalah judul buku yang dituliskan secara italic dengan penggunaan huruf kapital             mengikuti standar penulisan kalimat. Jumlah pengarang yang boleh didaftarkan di satu referensi maksimal                 berjumlah enam. Jika pengarang berjumlah lebih dari enam maka pengarang ketujuh dan selanjutnya                           dituliskan sebagai et al.

            Contoh:

Satu pengarang Conley, D 2002, The daily miracle: an introduction to journalism, Oxford University Press,New York.
Dua pengarang Anna, N & Santoso, CL 1997, Pendidikan anak, edk 5, Family Press, Jakarta.
Lebih dari dua pengarang Kotler, P, Adam, S, Brown, L & Armstrong, G 2003, Principles of marketing, 2nd edn, PearsonEducation Australia, Melbourne.
Tidak ada nama pengarang Computer Graphics Inter-Facing 1996, 3rd edn, Modern technology Corporation, Minnepolis.
      1. Artikel jurnal

Penulisan untuk artikel jurnal yaitu,

Nama belakang pengarang, inisial Tahun Publikasi, Judul artikel menggunakan tanda kutip tunggal, Nama jurnal menggunakan format italic,Nomor volume (ditulis vol.), Nomor halaman.

Contoh:

Pengarang tunggal Hall, M 1999, ‘Breaking the silence: marginalisation of registered nurses employed in nursing homes’, Contemporary Nurse, vol. 8, no. 1, hh. 232-237.
Dua pengarang Davis, L, Mohay, H & Edwards, H 2003, ‘Mothers’ involvement in caring for their premature infants: an historical overview’, Journal of Advanced Nursing, vol. 42, no. 6, hh. 578–86.
Lebih dari dua pengarang Wijaya, K, Phillips, M & Syarif, H 2002, ‘Pemilihan sistem penyimpanan data skala besar’, Jurnal Informatika Indonesia, vol. 1, no. 3, hh. 132-140.
Tanpa pengarang ‘Building human resources instead of landfills’ 2000, Biocycle, vol. 41, no. 12, hh. 28-29.

Sementara, untuk penulisan jurnal online penulisannya adalah sama dengan jurnal full-text hanya pada jurnal online setelah penulisan nomor volume jurnal (vol.) selanjutnya ditambahkan dengan tanggal diakses dan alamat web. Adapaun penulisannya yaitu:

Birbeck, D & Drummond, M 2006, ‘Very young children’s body image: bodies and minds under construction’, International Education Journal, vol. 7, no.4, dilihat 12 Desember 2006, <http://iej.com>.

  1. Halaman Web

Penulisan daftar pustaka untuk artikel yang dikutip dari web polanya adalah:

Nama pengarang atau editor atau penyusun Tahun , Judul Artikel (Italic), Nama lamam yang memuat, Tanggal akses, Alamat web.

Contoh:

desJardins, M 1998, How to succeed in postgraduate study, Applied Ecology Research Group, University of Canberra, dilihat 26 April 2001, <http://aerg.canberra.edu.au/jardins/t.htm>. (Disarikan dari berbagai sumber).

Untuk penulisan daftar pustaka yang bersumber dari selain sumber di atas, dapat melihat pedoman penulisan lebih lanjut di sini.

Referensi:

Artikel di atas diambil dari http://penerbitdeepublish.com

Pendidikan Karakter????

Pada tahun 60-an, Bung Karno, Presien RI pertama pernah menyerukan tentang membangun karakter atau Character Building. Ia mengatakan, “Bangsa ini harus dibangun dengan mendahulukan pembangunan karakter (character building) karena character building inilah yang akan membuat Indonesia menjadi bangsa yang besar, maju dan jaya serta bermartabat. Kalau character building ini tidak dilakukan, maka bangsa Indonesia akan menjadi bangsa kuli”, demikian Soemarno Soedarsono (2009) dalam bukunya “Karakter Mengantar Bangsa dari Gelap Menuju Terang”.

Mahatma Gandhi juga mengatakan hal yang sama, “Kualitas karakter adalah satu-satunya faktor penentu derajat seseorang dan bangsa”.

Ungkapan atau seruan dari beberapa tokoh tersebut menunjukan betapa penting pendidikan karakter. Baik untuk membangun sebuah bangsa atau yang lebih kecil lagi membangun sebuah keluarga. Sebenarnya, “Apa sih Pendidikan Karakter” itu…..????

Kalau kita baca di Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008), “karakter” merupakan sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain. Dengan demikian karakter adalah nilai-nilai yang unik-baik yang terpateri dalam diri dan terejawantahkan dalam perilaku. Karakter secara koheren memancar dari hasil olah pikir, olah hati, olah rasa dan karsa, serta olahraga seseorang atau sekelompok orang.

Sedangkan karakter menurut Pusat Bahasa Depdiknas memilki makna; bawaan hati, jiwa, kepribadian, budi pekerti, perilaku, personalitas sifat, tabiat, temperamen, watak. Adapun makna berkarakter adalah; berkepribadian, berperilaku, bersifat, dan berwatak.

Pengertian Pendidikan Karakater

Pendidikan karakter dimaknai dengan suatu sistem penanaman nilainilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran, atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun kebangsaan sehingga menjadi manusia insan kamil (Samani dan Hariyanto, 2011: 46). Sedangkan Wibowo (2012: 36) mendefinisikan pendidikan karakter dengan pendidikan yang menanamkan dan mengembangkan karakter-karakter luhur kepada anak didik, sehingga mereka memiliki karakter luhur itu, menerapkan dan mempraktikkan dalam kehidupannya baik di keluarga, masyarakat, dan negara.
sopanSementara itu, Berkowitz dan Bier (2005: 7) berpendapat bahwa pendidikan karakter merupakan penciptaan lingkungan sekolah yang membantu peserta didik dalam perkembangan etika, tanggung jawab melalui model dan pengajaran karakter yang baik melalui nilai-nilai universal.
Berdasarkan pengertian di atas, pendidikan karakter adalah sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada peserta didik sehingga mereka menerapkan dalam kehidupannya baik di keluarga, sekolah, masyarakat, dan negara sehingga dapat memberikan kontribusi yang positif kepada lingkungannya.
Pendidikan Karakter memiliki esensi yang sama dengan Pendidikan Moral atau Pendidikan Akhlak. Tujuannya adalah membentuk pribadi anak, supaya menjadi manusia yang baik, warga masyarakat, dan warga negara yang baik.

Kapan Pendidikan Karakter dimulai???

Dasar pendidikan karakter ini, sebaiknya diterapkan sejak usia kanak-kanak atau yang biasa disebut para ahli psikologi sebagai usia emas (golden age), karena usia ini terbukti sangat menentukan kemampuan anak dalam mengembangkan potensinya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekitar 50% variabilitas kecerdasan orang dewasa sudah terjadi ketika anak berusia 4 tahun. Peningkatan 30% berikutnya terjadi pada usia 8 tahun, dan 20% sisanya pada pertengahan atau akhir dasawarsa kedua. Dari sini, sudah sepatutnya pendidikan karakter dimulai dari dalam keluarga, yang merupakan lingkungan pertama bagi pertumbuhan karakter anak.